Jumat, 30 Agustus 2013

30 Hari Mengejar Keio Part 6a : International ID (Paspor)



Melanjutkan saga 30 Hari Mengejar Keio lagi. Kali ini saya mau membahas tentang pembuatan paspor (serapan dari passport). Sebenernya udah lama juga sih saya bikin paspor, sekitar setengah taun yang lalu jadi mungkin ada beberapa detil yang terlewat, terutama kelengkapan yang harus dibawa. Jadi saya buka lagi blog ini sebagai referensi  

Bikin paspor itu gampang dan ga ngrepotin. Kamu ga perlu ngurus paspor di kantor imigrasi di kota asal kamu, kalo misalnya kamu lagi sekolah/kuliah/kerja di kota lain kamu tetep bisa kok ngurus paspor di kantor imigrasi di kota tersebut. Contohnya ya saya, KTP Malang tapi waktu itu masih kuliah di Bandung jadi ya ngurus paspornya di Kantor Imigrasi Kota Bandung, di jalan Suci entah nomer berapa. Kalau dari arah Surapati, lokasinya di kanan jalan setelah pom bensin.

Selain itu bikin paspor itu juga ga lama, kira-kira cuma selisih seminggu dari kamu dateng ke kantor imigrasi buat ngumpulin dokumen sampe kamu dateng lagi buat ngambil paspornya, tapi ya itu saya harus bolak-balik 3 kali kosan-kantor imigrasi. Yang bikin males adalah saya harus berangkat pagi-pagi, kalo ga dateng pagi bisa dapet antrian belakang dan nunggunya jadi lebih lama, padahal saya ada kuliah pagi jadi harus bolos *sok-sokan ga suka bolos.

Hari Pertama (Selasa entah tanggal berapa)
Hari untuk mengumpulkan formulir permohonan paspor dan kelengkapan dokumen. Dokumen yang perlu kamu persiapkan untuk mengurus paspor adalah

  1.  KTP. Bawa yang asli dan fotokopian. Fotokopi sekali aja dan JANGAN DIPOTONG, biarkan tetep dalam 1 lembar kertas ukuran (anggaplah) A4. Soalnya kalo dipotong ga bakal diterima dan kamu harus fotokopi lagi (ada fotokopian di kantor sih, tapi mahal) 
  2.  Kartu keluarga. Bisa bawa yang fotopian (dilegalisir dulu di kelurahan), tapi waktu itu saya bawa yang asli 
  3.  Ijazah atau Akta Kelahiran atau Surat Nikah. Cukup bawa salah satu aja, terus boleh bawa yang fotopian, tapi waktu itu saya bawa Ijazah n Akta Kelahiran yang asli. 
  4.  Surat keterangan kerja/rekomendasi. Surat ini hanya dibutuhkan kalo kamu adalah pegawai dan pergi keluar negeri dengan tujuan kerja, kalo kamu masih kuliah atau tujuannya libur ya ga perlu bawa. 
  5.  Formulir permohonan paspor. Bisa kamu ambil di dalam kantor. Usahain jangan ada coretan disana. Ohiya di formulir bakal ditanyain mau paspor yang berapa halaman, minta aja yang 48 halaman, anggap saja doa biar bisa sering keluar negeri.
  6. Materai 6.000. Beli aja 1 lembar di fotokopian dekat rumah/kosan seharga Rp 6.000 - Rp 7.000 
  7. Map Kuning + Sampul Buku Paspor. Bisa kamu beli seharga Rp 10.000 di Kantor Imigrasi, kalo ga salah ada di bagian samping gedung, sebelum parkiran motor.
Dateng pagi-pagi, ambil antrian, beli map, fotokopi ktp kalo belum, isi formulir, tunggu antrian kamu dipanggil. Kasih semua kelengkapan itu untuk di cek petugasnya, setelah itu kamu dapet semacam bukti untuk dibawa lagi di kunjungan berikutnya ke kantor imigrasi

Hari Kedua (Jumat entah tanggal berapa)
Hari untuk membayar tagihan, foto dan wawancara. Yang perlu kamu bawa adalah bukti yang udah kamu dapet di hari pertama, uang sebesar Rp 255.000 dan jawaban untuk pertanyaan wawancara. Prosesnya masih sama sih, ambil antrian dan tunggu dipanggil. Bayar tagihannya, terus ngantri lagi untuk foto. Jangan lupa pake baju yang rapi n dandan sedikit (rapiin rambut). Terus antri lagi untuk wawancara, pertanyaan buat wawancaranya sederhana banget sih, kira-kira gini

“Mau kemana ?”
“Jepang pak”
“Mau apa disana ?”
“Kuliah pak”
“Oke, sekarang kamu cek di data ini ada yang salah apa ngga”
“. . . . rrrr, saya laki-laki pak”

Begitulah

Hari Ketiga (Selasa minggu depannya, masih entah tanggal berapa)
Hari untuk mengambil paspor. Yang perlu kamu bawa ya cuma bukti pembayaran yang udah dikasi sebelumnya. Ambil antrian ga ? lupa sih, tapi kayaknya ngambil deh. Cuma bentar juga kok, saya masi sempet ikut kuliah pagi.

Ohiya kamu bisa menghemat satu kali dateng ke kantor imigrasi dengan cara mengisi formulir permohonan paspor secara online (metode ini saya belum nyoba sih, tapi kata mas-mas di kantor imigrasi bisa via online). Untuk pengalaman ngurus paspor secara online bisa kamu lihat disini

Rabu, 28 Agustus 2013

30 Hari Mengejar Keio Part 5 : Beasiswa


Okeh, udah 20 taun saya ga nulis nih, sementara saga 30 Mengejar Keio masih jauh dari selesai selesai *tsaaaah. Di post sebelumnya saya cerita tentang pendaftaran Keio University International Graduate Program, untuk post kali ini dan seterusnya saya akan cerita tentang pendaftaran beasiswanya.

Sebelumnya saya kadang ditanya 2 (atau 3 yah) pertanyaan ini
“daftar/dapet universitas dulu apa beasiswa dulu ?”
“beasiswanya apa ? caranya gimana“

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah seperti yang sudah saya sebutkan di post pembuka saga ini, kelebihan program yang saya kejar ini adalah saya tidak perlu mendaftar universitas dan beasiswa secara terpisah, ada 1 formulir permintaan beasiswa yang bisa disertakan pada dokumen pendaftaran ke universitas. Jadi bisa dibilang pendaftaranya saya lakukan bersamaan, tapi saya dapet universitasnya dulu baru dapet beasiswanya.

Kalo pertanyaan kedua beasiswa yang saya peroleh adalah beasiswa Monbukagausho University Recommendation atau bisa disebut juga Monbukagakusho U(niversity) to U(niversity). Nah, untuk prosesnya kira-kira begini. Jadi suatu hari (setelah mengirimkan segala tetek bengek yang diminta Keio) saya mendapatkan sebuah e-mail yang isinya adalah saya diterima di Keio University program internasional. dan E-mail itu juga menanyakan apakah saya bersedia menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa entah dari Monbukagakusho atau Jasso, yang tentu saja saya iyakan.

Karena saya sudah menyatakan bersedia maka saya harus mengirimkan kelengkapan dokumen permintaan beasiswa. Enaknya adalah sebagian kelengkapan untuk daftar beasiswa sudah dipenuhi pas daftar Keio, jadi saya cukup melengkapi sisanya aja, diantaranya surat rekomendasi dari kampus (fakultas), akta kelahiran berbahasa inggris, research plan, fotokopi paspor, abstrak tesis, languang proficiency test result,  dst.
 
Surat rekomendasi kampus (fakultas) cukup mudah diperoleh, tinggal minta ke TU fakultas. Akta kelahiran berbahasa inggris ini yang menurut saya agak meragukan, emang bener akta kelahiran resmi sudah dwi bahasa (Indonesia-Inggris) tapi masih ada beberapa bagian yang masih berbahasa Indonesia, jadi untuk amannya saya pergi ke penerjemah tersumpah (sworn translator) untuk mengalihbahasakan (tsaaah bahasanya) akta kelahiran saya. Googling sebentar dan saya nemu penerjemah tersumpah deket kosan saya di Bandung, namanya Pak Ganda kalo ga salah (mahal juga euy, kalo ga salah selembar akta habis 200rb), setelah liat hasilnya sempet ragu juga sih tapi yawdalah nekat aja, untung banget pihak pemberi beasiswa mau nerima. 

Language proficiency test juga tinggal fotokopi lembar nilai TOEFL yang sudah saya gunakan untuk daftar Keio, sebenernya mereka ga spesifik minta TOEFL, pokoknya segala jenis material yang bisa menunjukkan kemampuan bahasa asing kamu secara objektif misalnya IELTS n JLPT. Terakhir untuk Paspor (plus visa), research plan, n abstrak tesis akan saya ceritakan di post berikutnya karena mungkin bakalan panjang.

Sabtu, 03 Agustus 2013

30 Hari Mengejar Keio Part 4b : Statement of Purpose (Contoh)



Melanjutkan dari post tentang Statement of Purpose (SoP) sebelumnya

Writer’s Note : seperti biasanya karena post nya bakalan panjang jadi akan saya bagi jadi beberapa post dan maklum aja ya kalo ada curhat-curhatnya dikit.  
Ini contoh SoP milik saya

To Keio University Admissions Committee

My name is Bagus Rezandi Mohammad. I'm writing this letter to show my desire to apply for the International Graduate Program in Keio University for the fall semester 2013. In the following letter, I would like to present my reasons for choosing this program and to provide a general background about myself.

I have graduated from Bandung Institute of Technology in Indonesia with a Bachelor Degree in Electrical Engineering. I enrolled in the Electrical Engineering Major in ITB because I wanted to make robots which are capable of interacting with human and assists human in their daily life. Since my first year as an undergraduate student, I have been planning to continue my graduate study abroad, especially Japan, to focus on robotic study. I want to help further robotic research in Indonesia since it's still quite unpopular despite of all the advantages it can bring to human daily life.

My final project as an undergraduate student was a research done in a group of three about weight-lifting exoskeleton, which is the first exoskeleton to be developed in Indonesia. Due to the limited time and resources, this first development was focused on the testing of exoskeleton’s basic hardware and software concept. Because the exoskeleton wasn’t intended to be worn yet it wasn’t made ergonomically enough for human, it was very heavy and rigid.

In my team I was responsible to assemble the hardware and design the position control. For the hardware module, I developed the frame and actuator. The frame part of the exoskeleton was designed for the upper body parts, consisting of back and two arms with each having two hinge joints. The movements of this exoskeleton arms are done by an actuator system consisted of several pneumatics, several solenoids, an electrical circuit, and a compressor. For the Position Control System, I developed the joint-position sensor and the position control algorithm. This system was developed so that the exoskeleton arms are capable to mimic human’s arms movement.

Inspired by my previous research, I intended to design and develop an assistive technology to support rescue team in their work. My idea is to create a haptic teleoperated robot for emergency help in disaster area. Teleoperated means that the robot is unmanned but controlled, or in other words an UGV (unmanned ground vehicle) robot. Haptic technology allows the robot to transmits the sense of touch and pressure to the operator and vice versa so the robot arm will virtually work like operator arm. Haptic technology is very important because this robot will be designed to give first aid treatment to the victims if needed, and such task is too complicated to be handled entirely by a robot. I understand that the realization of this robot will take a lot of time and effort so I will use my chance as a master student to finish the basic concept, and development of either haptic system or ugv system.

I want to continue my study in Keio University because some of the researches conducted there are about haptic technology, for example is tele-haptic technology research by Professor --- which is very useful for industrial and medical purposes. I have been in contact with Professor --- and I have received some materials to improve my research plan. I believe Keio University is very suitable for me to study about those technologies for my master program. I also realized that by enrolling in the International Graduate Programe I have a lot of chance to meet, study and work together with the students that share same interest and I think that is the best way for me to obtain world class experience. In the future, I want to continue the research about haptic teleoperated robot as a lecturer or scientist. And then I want to create a smart and affordable robot that can assist human life.

Bukan SoP paling bagus dan paling benar, masih ada kesalahan grammar di sana sini, terus ada ide yang mungkin tidak bisa dipahami pembacanya, tapi paling tidak SoP ini berhasil meloloskan saya ke universitas tujuan saya. Awas jangan copy paste, SoP masing-masing orang pasti beda karena masing-masing punya jalan pendidikannya sendiri.

30 Hari Mengejar Keio Part 4a : Statement of Purpose (Tips)



Lanjut lagi di saga 30 Hari Mengejar Keio (kalo 4 part udah bisa dibilang saga belum ?), di post ini saya mau membahas tentang Statement of Purpose. 

Writer’s Note : seperti biasanya karena post nya bakalan panjang jadi akan saya bagi jadi beberapa post dan maklum aja ya kalo ada curhat-curhatnya dikit.  

Statement of Purpose (selanjutnya saya sebut SoP) itu sangat penting untuk proses pendaftaran ke universitas/beasiswa karena dengan SoP ini pihak universitas/beasiswa bisa mengetahui kualitas, latar belakang dan potensi kamu. Esai sepanjang 1-1.5 halaman ini mungkin jadi bisa kunci penerimaan kamu di universitas impian kamu, mau transkrip kamu bagus tapi kalo dalam SoP kamu asal-asalan ya jangan harap bakal diterima, sebaliknya kalo transkrip kamu pas-pasan tapi SoP kamu bisa meyakinkan ya kamu bakal diterima. SoP ini fungsinya mendukung usaha kamu bukan untuk menjatuhkan, jadi harus serius waktu nulisnya.

Inti dari Statement of Purpose adalah
  1. Supportive Education Background. Jelaskan riwayat pendidikan kamu yang mendukung pendidikan atau riset kamu di universitas tujuan, misalnya jurusannya sama, tema risetnya sama, dll.
  2. Reason. Jelaskan kenapa kamu daftar ke universitas dan jurusan tujuan kamu. Kalo jurusannya sama  Bisa karena jurusannya sama dengan pendidikan sebelumnya, atau bisa juga karena kamu tertarik mereka
  3. Research Plan. Jelaskan riset apa yang ingin kamu lakukan di universitas tujuan kamu, apa alasan kamu mau riset tentang itu, dan pengembangan apa yang bisa kamu lakukan.
  4. Future Plan. Jelaskan rencana kamu setelah lulus dari universitas tujuan kamu. Sebenernya bebas sih kamu mau nulis apa, tapi kalo kamu bilang mau jadi artis setelah menempuh S2/S3 di bidang teknik, itu akan membuat pihak universitas mikir 2 kali lagi.

Beberapa tips untuk menulis Statement of Purpose
  1. Do stalk. Kamu harus tau dulu riset yang dilakukan universitas tujuan kamu, lebih spesifik lagi di laboratorium nya (riset di universitas kan macem-macem). Rencana riset kamu jangan sampai menyimpang dari laboratorium yang kamu tuju. Lebih bagus lagi kalo kamu udah dikasih bahan sama calon dosen pembimbing kamu disana.
  2. Take your time. Terutama kalo ini adalah SoP pertama kamu. Ga perlu buru-buru dalam nulis SoP, pikirkan matang-matang poin yang bisa menunjukkan kualitas kamu dan bagaimana kamu menuliskannya. Jadi sangat saya sarankan untuk tidak menjadi deadliner kalo udah menyangkut SoP.
  3. Drafting. Tulis rencana kasar SoP kamu, baca lagi, edit, baca lagi, edit, baca lagi, edit, dst. Ulangi sampai kamu puas dan merasa ga ada yang bisa kamu tambahin/benerin lagi.
  4. Proof Read. Nah sebagus-bagusnya SoP yang kamu tulis menurut kamu, tetep aja ada unsur subjektivitas disana jadi akan ada kesalahan yang luput dari mata kamu. Nah ini gunanya proof read, kasih liat tulisan kamu ke temen kamu untuk dikritik dan dikomentari, biasanya akan muncul masukan-masukan yang sebelumnya ga kamu sadari. Atau kalo kamu ga mau ngerepotin temen, bisa juga kamu tinggal SoP kamu 1-2 hari sampai pikiran kamu lepas dari SoP terus kamu baca lagi
  5. Use sophisticated word. Salah satu poin untuk menunjukkan kecerdasan dan kemampuan bahasa inggris kamu. Bukan berarti kamu harus pakai kata-kata mengerikan yang muncul di GRE, gampangnya kamu cukup ganti beberapa kata yang sederhana dengan kata yang hampir sama artinya tapi lebih panjang, misalnya want -> intent, show -> present.  
  6. Watch your grammar. Namanya juga esai dalam bahasa inggris, tata bahasa harus diperhatikan banget. Lagipula karya seorang akademisi atau peneliti itu dituangkan dalam bentuk tulisan (jurnal, tesis, laporan), jadi nulis SoP ini bisa dijadikan latihan.
  7. Be Passionate. Kalo kata temen saya “dari esai lo ini, gw ga bisa menemukan semangat lo”. Emang abstrak sih, saya juga ga bisa menjelaskan esai yang bersemangat dan tidak bersemangat itu seperti apa. Tapi intinya coba tunjukan excitement kamu untuk bisa masuk ke universitas tujuan kamu.
  8. Keep it short. Usahakan SoP kamu ga lebih dari 2 halaman, idealnya 1-1.5 halaman. Pihak universitas/beasiswa bakal menghadapi ratusan bahkan ribuan SoP, mereka bisa males duluan kalo SoP kamu kepanjangan. Inget kalo pembaca SoP ini manusia juga.
  9. Don’t overestimate yourself. SoP emang tujuannya menunjukkan kualitas kamu sebagai akademisi dan peneliti, tapi jangan nulis yang terlalu “tinggi”. Begitu juga rencana riset kamu, batasi dalam hal-hal yang realistis juga. SoP yang terlalu tinggi dan berbunga-bunga malah bikin pembacanya mengerutkan kening ga percaya.
Nah itu tips untuk nulis Statement of Purpose, untuk contohnya di post berikutnya aja.